Rabu, 21 Juli 2010

Hazrat Inayat Khan

Hazrat Inayat Khan dan Sufisme Universal

Biografi Hazrat Inayat Khan

Pir-O Murshid Hazrat Inayat Khan lahir pada hari Rabu, 5 Juli 1882 di Baroda, India. Mengurai sejarah hidup Inayat tidak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarganya yang amat berpengaruh dalam menyiapkan masa depannya baik dalam musik, perjalanan sufistik, dan keterbukaannya terhadap siapapun dari berbagai latar belakang tradisi dan keagamaan yang berbeda. Untuk itu, maka dalam biografi ini kita akan memulainya dari lingkungan keluarganya sendiri yang memiliki perhatian pada musik dan mistisisme.

Kakek Inayat, Maula Bakhsh dan bernama asli Chole Khan adalah putera Ghise Khan Enver Khan yang berasal dari keluarga Zamindar (Landlord, landowner; tuan tanah). Nama aslinya, Chole Khan, diganti dengan Maula Bakhsh, yang berarti Karunia Ilahi, oleh seorang darwish Chistiyyah. Studi Bakhsh dimulai dengan belajar musik dari Ghwasit Khan, seorang penyanyi India yang berbakat dan cukup termahsyur di kawasan Gujarat. Bakhs merupakan murid satu-satunya dari penyanyi kenamaan India ini, sebab sang guru menolak untuk menerima murid, kecuali terhadap Bakhsh yang diterimanya sebab Bakhsh mampu menyanyikan ragas-nya Ghwasit. Tempaan Ghwasit mampu menjadikan Bakhsh sebagai seorang musisi yang brilian, hingga konon ia mampu menjuarai tiga kali festival musik para musisi se-India.

Maha karya Bakhsh yang patut dicatat adalah jasanya dalam melakukan penyatuan antara corak musik India Utara yang banyak dipengaruhi oleh tradisi musik Persia dan Arab dengan corak musik India Selatan yang dianggap sakral dan merupakan bagian penting dari lembaga kultural keagamaan masyarakat India kawasan selatan. Karena itu, dalam sejarah musik India, nama Maula Bakhsh senantiasa dikenang sebagai musisi yang amat menguasai musik Karnatik (Carnatic Music) India. Di samping itu, Bakhsh juga memiliki ketertarikan pada tradisi musik Barat, dan kecenderungan ini mendorongnya mengirim anaknya Alaoddin Khan untuk belajar di Royal Academy of Music di London.

Menurut Keesing, alasan kenapa Bakhsh begitu dihormati peranannya dalam sejarah musik India adalah bukan semata-mata karena dia sebagai seniman yang memiliki personalitas yang kuat, namun lebih dari itu, Bakhsh telah menambahkan sesuatu yang amat bernilai bagi perkembangan musik India yaitu penggunaannya terhadap metode ilmiah dan sistematik dalam seninya. Bakhsh tidak semata membangun kebesarannya sebagai musisi, namun Bakhsh juga coba memberi sentuhan yang teramat berpengaruh dalam keanggunan India dan kekayaan tradisi kultural yang dimilikinya. Bakhsh menyadari bahwa dirinya hidup dalam masa transisi di mana tradisi musik India yang begitu dicintainya dihadapkan pada bahaya kematian. Karenanya Bakhsh berupaya mengumpulkan kembali musik India dan mengklasifikasikannya berdasar corak dan aliran yang diusung sebagai warisan berharga bagi generasi India selanjutnya.

Melalui bakat bermusiknya yang sangat brillian, Bakhsh mampu menjalin relasi yang cukup erat dengan beberapa penguasa pemerintahan negara-negara bagian India, salah satu di antaranya adalah Maharaja Sayaji Rao Gaekwar III, penguasa politik Baroda. Dalam karir bermusiknya, dengan bantuan dari penguasa Baroda ini, Bakhsh mendirikan Akademi Musik Gayanshala di Baroda sekaligus menjadi direktur pertama hingga wafatnya pada 1896. Akademi musik ini mengakomodasi mahasiswa-mahasiswa yang belajar musik dari berbagai aliran musik dan kelompok sosial masyarakat yang berbeda.

Sisi lain dalam diri Bakhsh adalah kecenderungannya untuk menghormati berbagai tradisi agama dan mistik yang berkembang pada masanya. Bakhsh seringkali menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan, diskusi, dan persinggahan para cendekiawan dan agamawan dari berbagai latar belakang sosial dan tradisi keagamaan yang berbeda, Hindu, Islam, Zoroaster, dan Kristen. Kecenderungan ini ditularkan Bakhsh pada Inayat dengan cara membawa sang cucu mengunjungi banyak Guru Spiritual Hindu maupun para Sufi Islam.

Mashaikh Rahmat Khan, ayah Inayat, lahir pada 1843 dari keluarga yang tinggal di Sialkot Punjab dengan latar belakang musik, mistik dan kepenyairan. Keluarga Rahmat bermoyangkan bangsa Turki yang melakukan emigrasi ke kawasan Punjab, menghindari kepungan pasukan Timur Lenk. Dalam waktu yang cukup lama, keturunan ini mempertahankan penggunaan gelar Yuzkhan (bahasa Persia; Jamma Shah). Studi Rahmat Khan dimulai dengan belajar musik klasik India dari Sayn Alias, seorang komposer sekaligus sufi yang hidup secara asketis dari daerah Punjab. Selanjutnya Rahmat belajar dan menjalin hubungan erat dengan Maula Bakhsh, bahkan menikahi puterinya Fatima Bibi. Setelah istri pertamanya ini wafat, Rahmat kembali menikahi puteri Bakhsh Khadija Bibi, ibu dari Inayat Khan. Di samping membantu Bakhsh dalam mengelola Akademi Musik Gayanshala, Rahmat juga merupakan musisi klasik dhrupad yang cukup berbakat.

Hal yang perlu dicatat, Rahmat Khan juga amat terpengaruh oleh ajaran keagamaan yang digagas oleh gerakan pembaruan puritan Islam, Wahhabi, yang muncul pertama kali di kawasan Hejaz (Saudi Arabia) . Karenanya tidak heran, jika Rahmat Khan memiliki sikap dan pandangan keagamaan seperti layaknya seorang Muslim yang taat sekaligus kritis terhadap berbagai tradisi yang bernuansa takhyul (superstition).

Khadija Bibi (1868-1902) adalah salah satu dari tiga puteri Bakhs, selain Fatima Bibi dan Jena Bibi. Khadija merupakan anak perempuan Bakhsh yang cukup terpelajar. Hal ini tampaknya didasarkan pada penguasaan Khadija yang cukup mendalam terhadap bahasa Arab, Persia, dan Urdu.

Dalam usia lima tahun, oleh keluarganya, Inayat Khan dimasukkan ke sebuah sekolah Hindu Marathi. Sekolah terbaik dengan kurikulum modern di Baroda saat itu, namun sekolah ini tidak menggunakan metode pengajaran yang modern. Sekolah ini justru menggunakan metode pengajaran yang dianggap 'kolot' dan berlawanan dengan kecenderungan belajar Hazrat Inayat Khan. Meski tertinggal dalam pelajaran ilmu-ilmu eksakta, namun di sekolah ini Inayat mulai menunjukkan talentanya pada musik dan sastra. Dalam mempelajari musik, Inayat belajar langsung dari kakeknya Maula Bakhsh di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengelola akademi Musik Gayanshala. Dalam sastra, Inayat Khan belajar pada Kavi Ratnakar, seorang pujangga termahsyur India. Inayat amat menyukai sajak-sajak Dayananda Saraswati, yang pengalaman hidup dan pemikiran filosofisnya dibaca Inayat dengan penuh perhatian. Sajak-sajak Kabir, Nanak dan Ram Das teramat menyentuh kesadarannya. Abhangas (syair-syair) Tukaram juga tidak dilewatkan oleh Inayat. Pada saat yang sama, Inayat juga memiliki motivasi besar mempelajari Bhagavad-Gita.

Beranjak remaja, Inayat sering kali disebut Buddhi Arwah. Sebab dalam usia ini, Inayat sering kali melewati hari-harinya bersama orang yang lebih dewasa dari dirinya. Dalam masa ini, suatu saat Rahmat Khan mengajaknya berkunjung ke Kathiawar (Gujarat), Istana dari Raja Kesri Singh. Perjalanan ini memberi suatu kesadaran bagi Inayat bahwa corak hidup raja-raja inilah yang nantinya akan membawa keruntuhan India. Perjalanan ini sekaligus mejadi titik jelas kecenderungan hidup Inayat. Inayat teramat menyukai ceramah seorang Yogi di kota ini, Swami Hamsasvarupa. Meski Inayat berlatar belakang Muslim, namun dari kesempatan ini dan pendidikan pertama yang diperolehnya Inayat memiliki kecenderungan pada Hinduisme. Mirip dengan Maula Bakhsh yang juga memiliki kecenderungan pada tradisi masyarakat India.

Meskipun masih muda, Hazrat Inayat Khan telah tertarik untuk mengerjakan semua hal yang ingin ia kerjakan. Inayat sering kali datang dan belajar musik kepada banyak pengajar yang dengan senang hati menerima dan mengajarinya musik. Sering kali pula Inayat berkumpul dengan para siswa dari berbagai sekolah Tinggi di Baroda yang mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan musik. Kesempatan ini dimanfaatkan Inayat sebaik mungkin sebagai jalan bagi dirinya untuk mengutarakan pandangan-pandangannya mengenai musik dan perkembangannya di India. Di kuil Narsiji, berulang kali Inayat memberikan pandangan-pandangannya tentang musik dengan berbagai aspek religius dan ilmiah yang dikandungnya. Di antara pandangannya adalah signifikansi pengajaran musik bagi masyarakat. Pandangan-pandangan yang diutarakannya sering kali dimuat oleh surat kabar terbitan Baroda.

Pada usianya yang masih muda, Inayat mulai melihat adanya kekurangan dalam sistem pendidikan bagi kaum perempuan. Fenomena ini secara masif Inayat temukan dalam masyarakat Muslim. Saat itu, terdapat keragu-raguan dalam sebagian masyarakat Muslim untuk memberikan pengajaran musik terhadap anak-anak perempuan. Sebagai reaksinya, Inayat menuliskan sebuah buku dengan menggunakan bahasa Hindustan tentang musik, Balasangitmala. Buku ini sering kali dibawanya menemui berbagai tokoh Islam untuk menegaskan pentingnya kaum perempuan mendapatkan pengajaran musik secara layak.

Untuk melepaskan Inayat dari kesedihan atas meninggalnya Maula Bakhsh, Inayat diajak oleh Rahmat Khan dalam pementasan musik di Nepal yang diselenggarakan oleh Maharaja Bhim Shamsher. Dalam pentas musik ini, diundang seluruh musisi ternama dari berbagai penjuru India. Rahmat Khan sendiri hadir sebagai undangan mewakili Akademi Musik Gayanshala, Baroda.

Dalam perjalanan menuju Nepal, Inayat menyinggahi beberapa daerah yang menyodorkan pengalaman spiritual bagi dirinya. Singgah di Gwalior, Inayat berkesempatan mengunjungi makam Tansen, seorang musisi India termahsyur pada masa hidupnya. Singgah di Benares, Inayat berkesempatan menelusuri jejak-jejak tradisi Hindu dan Budha dan merasakan spirit inisiasi dan dorongan bagi pencapaian tujuan hidup yang selama ini dirasakan batin terdalamnya.

Tiba di Katmandu, ibu kota Nepal, Inayat menemukan apa yang sangat ia harapkan, yaitu kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan seluruh penyanyi kenamaan India yang ikut serta dalam festival musik tersebut. Dalam kesempatan ini pula Inayat mulai melihat tanda-tanda kemerosotan musik India dengan semakin terlepasnya musik tersebut dari sakralitas yang dikandungnya. Kemerosotan ini, menurutnya, lebih disebabkan sikap dan perilaku para musisi sendiri yang terkadang menjilat dan mencari tempat dalam diri para penguasa.

Di Katmandu, ada dua pengalaman spiritual yang cukup berpengaruh pada diri Inayat. Pertama, perjumpaannya dengan seorang Sufi yang hidup secara zuhud dan menjadi pembimbing spiritual Raja Bhim Shamsher. Sufi dari Punjab ini memiliki personalitas yang menarik perhatian Inayat. Sufi ini pula yang menyarankan Inayat untuk mengambil jalan sufistik dalam hidupnya. Pengalaman kedua adalah saat ia berjumpa dengan seorang Mahatma. Dalam perjumpaannya dengan Sang Mahatma ini, Inayat sering kali merasakan aura keagungan spiritual yang melingkupinya. Dua pengalaman perjumpaan ini berpengaruh dalam perubahan sikap dan perilaku Inayat yang kemudian lebih ramah, sabar dan penuh diliputi rasa kasih sayang.

Sekembalinya dari Nepal, Inayat mengajar musik pada anak-anak Dewan Srinivasa Raghva Ayangar, seorang perdana menteri negara Baroda. Tidak berapa lama, paman Inayat, Alaoddin Khan pulang kembali ke India setelah mengambil gelar doktoralnya dalam bidang musik dari London Inggris. Kekembalian sang paman menjadi jawaban tersendiri atas segala keingintahuan Inayat tentang Barat (Eropa). Dari Alaoddin, Inayat banyak mempelajari berbagai hal mulai dari cara memainkan Violin hingga teori musik Eropa, perbedaan tradisi musik Barat dan Timur, bahkan mendiskusikan pemikiran filsafat dan keagamaan masyarakat antar dua benua ini.

Inayat Khan tidak pernah melewatkan setiap kegiatan yang berkaitan dengan musik di seluruh Baroda. Dalam masa ini, Inayat menyelesaikan sebuah komposisi lagu yang ia tuliskan dalam empat bahasa sekaligus; Urdu, Hindi, Marathi dan Gujarat. Komposisi musik ini ia bukukan dalam Sayaji Garbawali dan didedikasikan kepada Maharaja Baroda, Maharaja Sayaji Rao Gaekwar III. Dalam sebuah festival musik Navarat, Inayat menyanyikan langsung di hadapan Maharaja. Hal ini membuat Inayat makin dikenal masyarakat tidak hanya sebagai penyanyi, tetapi bahkan sebagai seorang komposer dan pengajar musik yang berbakat di seluruh wilayah Baroda.

Setelah beberapa waktu, Inayat mendapatkan tawaran lain dalam rangka lawatan musik. Di antara daerah lawatannya adalah Madras. Di negara ini, Inayat banyak memperoleh penghormatan masyarakatnya. Selanjutnya, Inayat diundang ke Mysore oleh Maharaja Krishna Raja Voyder. Di Mysore, Inayat berkenalan dengan Shaishanna, Shamanna dan Subbana; para musisi kenamaan Istana Mysore.

Antusiasme dan bakat Inayat akhirnya tidak dapat lagi menemukan wilayah untuk mengekspresikannya di Baroda. Inayat menyadari keterbatasan untuk mengekspresikan talenta musiknya hingga mendorongnya untuk meninggalkan Baroda menuju Hyderabad. Sebelum mencapai Hyderabad, Inayat terlebih dahulu singgah di kota Bombay. Di Bombay inilah, Inayat menemukan pembuktian penglihatannya atas kemunduran tradisi musik India.musik dalam masyarakat di kawasan ini dianggap tdak lebih daripada hiburan, kesenangan dan pengisi waktu luang. Musik telah kehilangan dimensi sakralnya. Bermusik dianggap sebagai profesi untuk meraih keuntungan, mendapat penghormatan, dan mencapai kedudukan tertinggi dalam strata sosial masyarakat. Inayat melihat bahwa kondisi ini makin diperparah oleh gerakan Eropanisasi India yang membawa hilangnya kesadaran masyarakat India untuk memahami tradisi musiknya yang sakral.

Di Hyderabad, Inayat banyak menjalin pertemanan. Salah satu di antara teman dekat Inayat adalah Raja Din Dayal yang berjasa mengantarkannya untuk dekat dengan Nizam Hyderabad. Pada saat yang sama, Inayat berhasil menuliskan dalam bahasa Hindustan buku Minqar-i Musiqar yang mengurai seputar persoalan musik. Hubungan Inayat dengan Nizam Mir Mahebub Ali Khan sering kali digambarkan sebagai hubungan yang penuh dengan kesalingpengertian dan penghormatan satu sama lain. Nizam sangat terkesan dan menaruh hormat terhadap musik yang dikompilasikan Inayat. Bahkan Nizam menggelari Inayat sebagai "Tansen". Penghormatan Nizam ini tampaknya didasarkan pada keberadaan Nizam sendiri sebagai seorang penyair dan musisi. Karir bermusik Inayat makin menanjak tajam setelah ia tinggal di Istana Nizam.

Meski Inayat telah mencapai puncak dalam bermusik, sebagai seorang musisi berbakat dari daratan India dan mendapatkan dukungan penuh dari Nizam Hyderabad, namun kecenderungan Hazrat Inayat Khan terhadap spiritualitas semakin pesat berkembang. Inayat sering kali melewati hari-harinya dengan melakukan perenungan eksistensial yang berkecamuk di kedalaman samudera jiwanya. Merasakan dahaga spiritual yang menggelisahkan dan memacu sebuah proses pencarian. Dalam catatan Whiteveen, pencapaian nilai estetika tertinggi musik Inayat justru tercipta ketika Inayat makin masuk ke dalam prakek-praktek meditatif. Musik dan permainan Vina Inayat Khan mampu menghantarkan seseorang pada kondisi ekstase.

Saat masih tinggal di istana Nizam Hyderabad, Inayat Khan sering kali meluangkan waktunya mencari pemenuhan bagi dahaga spiritualnya. Inayat sering kali mendatangi guru-guru spiritual Islam, Murshid, dan para bijak bestari Hindu. Guru-guru spiritual Islam antara lain adalah Maulawi Umar dan Maulana Khair-ul Mubin, dua orang tokoh sufi Islam terkemuka di kawasan Hyderabad. Namun, tokoh Sufi Islam yang berpengaruh terhadap Hazrat Inayat Khan adalah Maulana Hazrat Seyyed Muhammad Abu Hashim Madani.

Hubungan antara Abu Hashim Madani dan Inayat Khan seringkali diilustrasikan sebagai hubungan yang penuh dengan kehangatan, penghormatan dan antusiasme. Inayat dikabarkan banyak menulis lagu-lagu dan syair-syair yang berisi pujian terhadap sang Murshid ini. Dari Abu Hashim, di samping mendapat bimbingan spiritual, Inayat juga mempelajari tradisi Islam, Hadits, Al-Qur'an bahkan literatur Sufi-Sufi berbahasa Arab dan Persia. Abu Hashim inilah yang kemudian dipercaya memotivasi Inayat untuk menyebarkan pesan-pesan Sufi ke dunia Barat.

"You are gifted in music, you are gifted philosophy, combine these two, go abroad and bring better understanding between east and West, for to this end you are gifted by Allah, the most merciful and compassionate..."

 
 

Dalam bertasawuf, Inayat Khan lebih cenderung memosisikan diri sebagai bagian dari tarekat Chistiyyah seperti yang berkembang luas pada masyarakat Muslim India. Anutan ini tampaknya tidak lepas dari sikap tarekat ini sendiri yang menempatkan musik dan sya'ir dalam posisi yang cukup penting dalam kehidupan spiritual. Dalam beberapa catatan pemerhati tasawuf, tarekat Chistiyah memiliki suatu tradisi Sama', yaitu audisi mistik para Sufi Chistiyyah dengan menggunakan sarana musik dan lagu. Meski lebih condong pada ajaran dan praktek tasawuf Chistiyyah, namun Inayat tidak tertutup untuk mempelajari jalan pencapaian realisasi Yang Ilahi (God-realization) melalui metode-metode yang ditempuh tiga tarekat lain yaitu Naqshabandiyyah, Qadiriyyah dan Suhrawardiyah.

Setelah Hazrat Maulana Abu Hashim Madani wafat pada 7 Oktober 1907 (29 Shaban 1325 H), Inayat Khan ditemani dengan dua saudara kandungnya; Maheboob Khan dan Musheraf Khan, dan satu orang sepupunya, Ali Khan, berangkat menuju Barat (Amerika dan Eropa) mengikut pesan sang Murshid untuk menyebarkan pesan-pesan Sufisme kepada masyarakat di benua ini. Rombongan ini tiba di Amerika pada 13 September 1910. melalui kelompok musik bersaudara The Royal Musicians of Hindustan- Inayat Khan bersaudara menyampaikan pesan-pesan sufi kepada masyarakat Barat. Dunia Barat yang pertama kali disinggahi sebagai tempat awal penyebaran sufisme adalah Amerika Serikat. Di negara ini, Inayat Khan bersaudara menyampaikan pesan-pesan sufistiknya dalam berbagai festival musik yang digelar pada berbagai perguruan tinggi mulai dari Columbia University di kota New York, University of Los Angeles, hingga Berkeley University di kota San Francisco.

Di Amerika, Inayat Khan mendapatkan murid spiritual seperti Ralph Perish, Miss Genie Nawn, Miss Ada Martin yang kemudian diinisiasi (bay'at) oleh Inayat dengan menamainya sebagai Rabi'ah, serta sejumlah orang yang mula-mula tertarik dengan nuansa musik India yang dibawakannya. Setelah lebih dua tahun menyampaikan sufisme di negara ini, tidak banyak hal yang dapat dilakukan Inayat dengan pergerakan sufinya.

Karena itu, pada 1912-1913 Inayat pindah ke Inggris. Di negara ini, Inayat berkenalan dengan musisi seperti Cecil Scott dan Percy Grainger dan August Holmes dari Royal Academy of Music England. Pada 1913, Inayat pindah ke Paris Prancis di mana di negara ini tulisannya a Sufi Message of Spiritual Liberty diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh muridnya Mr. M.H. Thurburn. Dari Paris, Inayat kembali meneruskan perjalanannya ke Rusia dari 1913 sampai 1914. Di Rusia, Inayat berkesempatan untuk tampil di Imperial Conservatory of Music dan Imperial school of Opera and Balet. Di samping itu, Inayat juga berkesempatan memublikasikan a Sufi Message of Spiritual Liberty ke dalam bahasa Rusia. Pada 1914, Inayat kembali ke Prancis. Perjalanan Inayat cukup lama di daratan Eropa dan Amerika. Dari 1914-1920 Inayat kembali ke Inggris dan menerbitkan In an Eastern Rose Garden dan The Way of Illumination di samping mulai merintis pengembangan Sufi Order. Setelah itu, pada 1920 Inayat melanjutkan perjalanan ke Swiss pada 1920.

Pada 1923 di Jenewa, Swiss Inayat Khan mendirikan organisasi Sufi yang bernama The Sufi Movement yang sekarang berpusat di Anna Paulownastraat 78 2518 BJ Den Haag Netherland Belanda. Organisasi Sufi ini yang kemudian melanjutkan cita-cita Inayat menyampaikan pesan-pesan Sufisme universal (Universal Sufism) sebagai jalan bagi terciptanya iklim dialog antar umat manusia dari berbagai tradisi kultural, sosial, politik, dan agama yang berbeda, di samping mengupayakan terciptanya kesalingpengertian dan penghormatan Barat dan Timur. Beberapa lama kemudian The Sufi Movement ini berkembang ke dalam tiga kelompok penting; The Sufi Movement yang dipimpin oleh Pir-O Murshid Hidayat Inayat Khan, The Sufi Order Internasional yang dipimpin oleh Pir Vilayat Inayat Khan dan The Sufi Islamia Ruhaniat Society.

Dalam perjalanannya mengelilingi Eropa dan Amerika, Inayat bertemu dengan Ora Ray Baker, saudara Mary Baker Eddi pendiri Christian Sciences, dan menikahinya pada 1912 di London, Inggris. Bersama Ora Baker yang kemudian beralihnama menjadi Sharda Amina Begum, Inayat Khan memperoleh empat orang anak; Noorunnisa (Babuli, l.1914), Vilayat (Bhaijan, l. 1916), Hidayat (Bhaiyajan, l. 1917) dan Khairunnisa (Manduli, l. 1919).

Pada 1926, Inayat kembali pulang ke India. Mengisi waktu dengan mengajar dan menyampaikan ceramah di berbagai daerah dan perguruan tinggi India. Pada 5 Februari 1927 Inayat meninggal dunia setelah mengalami sakit yang cukup parah. Jenazahnya dikuburkan di samping makam Nizamuddin Aulia di Delhi.

 
 

DOA BERSAMA HAZRAT INAYAT KHAN

Tuhan Yang Maha Pengasih, Guru, Mesias dan penyelamat seluruh umat manusia

kami menyalami-Mu dengan segala kerendahan hati. Engkaulah sebab awal dan akibat akhir

cahaya ilahi serta Roh Pembimbing Yang Awal dan Yang Akhir

Cahaya-Mu berada dalam setiap wujud, kasih-Mu dalam setiap mahkluk

dalam seorang ibu yang mencintai dalam seorang ayah yang baik hati

dalam setiap anak yang polos dalam seorang sahabat yang siap membantu

dalam seorang guru yang memberi inspirasi. Ijinkan kami mengenali-Mu

dalam setiap nama dan wujud-Mu nan suci sebagai Rama, sebagai Krishna

sebagai Shiva, sebagai Buddha.

Biarkan kami mengenali-Mu sebagai Ibrahim, sebagai Sulaiman

sebagai Zarathustra, sebagai Musa sebagai Yesus, sebagai Muhammad

dan dalam setiap nama dan wujud lainnya baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui oleh dunia ini.

Kami mencintai masa lalu-Mu masa kini-Mu menerangi jiwa kami

dan kami memohon rahmat-Mu untuk masa depan.

Wahai Utusan Tuhan, Kristus, Nabi, Rasul Allah!

Engkau yang hatinya senantiasa menggapai ketinggian ilahi.

Ketika dharma hendak sirna bagaikan merpati surgawi

Kau dating dengan membawa pesan Ilahi Bagaikan cahaya yang menerangi bulan

Ia (yang mengutus-Mu) Mengisi mulutmu dengan ucapan-ucapan

Sesuai dengan kehendak-Nya.

Semoga cahaya ilahi yang menerangi jiwa-Mu

menerangi pula jiwa mereka yang mencintai-Mu.

Semoga Pesan Ilahi (ini) tersebar luas

dan menerangi seluruh umat manusia serta menjadikannya satu persaudaraan

di bawah kekuasaan Allah (Yang Satu Ada-Nya). Amin.

 
 

 
 

 
 

 
 

Membangkitkan Kesadaran Spiritual - Sebuah Pengalaman Sufistik

oleh: adiguna    

Pengarang : Pir Vilayat Inayat Khan

• Summary rating: 3 stars (17 Tinjauan)

• Kunjungan : 826

• kata:600 

More About : pir vilayat inayat khan kisah hidup

"Waspadalah untuk tidak membatasi dirimu hanya pada satu agama saja dan menolak semua agama lain, sebab engkau akan banyak kehilangan manfaat, bahkan pengetahuan mengenai realitas tidak akan dapat engkau raih. Jadikan dirimu penampung segala kepercayaan. Sebab Tuhan terlalu besar dan terlalu luas untuk dibatasi dengan satu agama saja" (Ibn Al'Arabi).

 
 

Sufisme adalah tenteram bersama Tuhan. Menjadi anak sang waktu. Mengalihkan cara pandang dari sudut pribadi yang sempit kedalam sudut pandang Ilahi. Ditinjau dari sisi lain, memiliki relevansi dengan masa depan yang begitu sarat dengan teknologi, masa depan adalah bukan apa yang menanti, ia adalah sesuatu yang tercipta melalui penyortiran masa lalu untuk dimasukkan kedalam masa depan. Terus berlangsung pada setiap era melalui proses yang imajinatiff, inovatif, dan dilakukan dalam kesadaran hingga membentuk apa yang dinamakan evolusi spiritual. Menggeser perspektif pikiran kerdil kedalam perspektif lain yang lebih tinggi dan luas hingga menyingkap kebermaknaan dalam konteks totalitas penciptaan yang menakjubkan. Berpikir layaknya Alam Semesta. "Berpikir seperti Tuhan Berpikir" (Newton). Menggunakan media meditasi sebagai sarana dasar perenungan, untuk mewujudkan dan menemukan dimensi kosmik dan transenden dalam memperluas dan mengubah perspektif individual dan pemahaman kepribadian tentang kehidupan, hingga mencapai suatu tahapan dimana ditemukan suatu intuisi langsung yang tidak dimediasi oleh fenomena fisikal dan menemukan kebebasan didalam batin, pikiran dan emosi.

 
 

"Ketika ketidakbenaran dalam hidup menembus hati, saat itu kebenarannya dibukakan". (Hazrat Inayat Khan).

 
 

Meditasi dapat dilakukan dengan melatih kemampuan dasar Pernapasan sebagai sarana penyucian dasar, karena napas merupakan media penghubung badan energi halus manusia kedalam bidang elektromagnetik alam semesta. Dengan bantuan CD yang bernama "Fratres" berjudul Tabula Rasa, dan dilakukan dengan empat napas elementer yang meliputi : tanah, air, api dan udara. Melewati proses transmutasi, berpaling dan berpikir kedalam jiwa, hingga melalui pintu imajinasi dan membuka apa yang ada dibalik penampilan, membimbing jiwa memasuki wilayah jiwa. Meredakan emosi dengan alunan musik yang indah, memperlambat irama tubuh dengan latihan pernapasan, lalu mengalihkan pusat perhatian dari tepian ke kedalaman batin kesadaran, inilah fase memasuki tahapan meditatif yang dalam dimana citra-citra visual dapat menjadi jembatan diantara dua dunia dan menemukan hakikat esensial yang sebenarnya.

 
 

Mengupas secara universal dan memberi pengarahan dengan lembut dan sabar, lengkap dengan berbagai pengalaman yang bukan hanya teoritis, berbagai cara serta ditinjau dari sudut agama-agama didunia, dengan media Meditasi, buku ini membimbing untuk lebih dalam menyingkap dan menyelami makna Sufi dan Tasawuf untuk menuju hakikat esensial kemanusiaan yang sebenarnya, menyatu dengan Tuhan, menemukan, membangkitkan, membangunkan dan menyempurnakan sifat-sifat Ilahi kedalam kepribadian dikehidupan kita. Menyadari secara benar perbedaan kesadaran hati dan kesadaran pikiran bahwa kita lebih mulia dari apapun didunia, sehingga membentuk sebuah cahaya yang menerangi kehadiran Ilahi dalam diri dan membimbing jalan dikehidupan. Bukan menuju kearah atheisme, tetapi membantu kita dalam merenungkan misteri kehidupan didunia lewat cara pandang yang berbeda, sehingga kita merasa malu karena membiarkan diri kita dikuasai oleh kebencian, ego, dan kebodohan yang dangkal.

 
 

 
 

 
 

CATATAN AKHIR

Sebuah Simpul

Keragaman realitas agama, dalam pemikiran Sufistik Hazrat Inayat Khan, tidak terlepas dari keberadaan agama-agama sendiri sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan melalui medium penghantar atau para rasul Tuhan yang kehadirannya seperti hujan yang turun dari langit. Hujan yang turun dari langit akan memiliki banyak nama yang menjadi tempat turunnya, namun semuanya memiliki hakikat sama, yaitu tempat tertampungnya air.

Demikian pula wahyu, ia turun di waktu dan tempat mana wahyu memang sangat dibutuhkan keberadaannya. Maka tidak heran jika kemudian wahyu yang mengejawantah pada kedalaman sejarah umat manusia menjadi realitas yang tidak tunggal dengan beragam istilah penyebutan: Islam, Yahudi, Nashrani, Hindu, Buddha, Zoroaster. Namun semuanya memiliki hakikat fundamental yang sama, yaitu sebagai tempat di mana kebijaksanaan diajarkan (hikmah: wisdom) kepada umat manusia.

Keberagaman dan keberbedaan agama-agama hanya terletak pada bentuk lahirnya. Agama memiliki kebenaran esensial yang tunggal, namun kemudian agama justru akan menampakkan keberbedaan aspek plural ketika agama dikonsepsikan oleh masyarakat pengimannya.

Hazrat Inayat Khan juga menegaskan bahwa agama memiliki dimensi eksoterik dan esoterik. Melalui dimensi eksoterik, yang luar, yang lahir, yang berhubungan dengan aspek lahir dan formal dari kehidupan manusia yang beragama, manusia mampu mengikuti ajaran-ajaran dan beriman pada kebenaran yang diajarkannya untuk mendapatkan bimbingan dan keselamatan. Melalui dimensi esoterik, yang batin, yang esensial, yang tak berbentuk, dan yang tak cukup terbahasakan dalam ungkapan dan terpetakan oleh nalar, manusia memiliki kebertujuan hidupnya yaitu yang ideal.

Ideal dalam pandangan Hazrat Inayat Khan adalah suatu hal di mana kita menyandarkan segenap pengharapan dan pegangan. Ketiadaan yang ideal berarti ketiadaan harapan yang dituju. Diakui Inayat, ada banyak ideal yang dijadikan sandaran pengharapan dan pegangan oleh umat manusia, namun ideal yang dimaksud adalah ideal yang tertinggi dan teragung dari semua ideal yang ada, yaitu Tuhan Ideal (the God-Ideal). Suatu Ideal sejati yang menjadi tujuan paling bermakna bagi manusia di dalam hidupnya.

Tuhan Ideal, diakui Hazrat Inayat Khan, telah terefleksikan menjadi beragam ideal keagamaan yang dikonsepsikan, diberikan aspek, dan pengertian berbeda ketika diungkapkan oleh setiap individu yang beriman. Tuhan Ideal dalam semua bentuk pengungkapannya yang beragam telah berperan membawa setiap individu tersebut dari ruang pikiran kemanusiaannya menuju ke dalam kesadaran Yang Ilahi.

Gagasan Tuhan-Ideal (God-Ideal) dalam pemikiran Hazrat Inayat Khan inilah yang menjadi pusat dari beragam konsepsi mengenai ideal-ideal yang ada di dalam setiap agama. Tuhan-Ideal merangkum kesemua ideal-ideal yang ada dalam setiap agama, sebab ideal-ideal tersebut hanyalah bentuk pengungkapan beragam sesuai dengan tingkat pemikiran nalar dan kesiapan mental mereka mengenai ideal yang sejati dan tinggi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam gagasan Tuhan-Ideal inilah kesemua bentuk pengungkapan ideal agama-agama bertemu.

Selembar Saran

Berdasar pada kesimpulan yang dapat kita tarik, ada satu saran yang dapat ditujukan bagi seluruh umat manusia untuk menyadari bahwa di balik semua realitas agama-agama yang beragam terdapat suatu prinsip dasar yang mengikat, mempertemukan, dan menyatukan semuanya: Yang Maha Mutlak, Tuhan-Ideal. Sumber dan muasal atas segala realitas yang tercipta ke dalam keragaman bentuk.

Karena itu, keragaman realitas agama-agama adalah sesuatu yang alamiah dan tak patut untuk dipertentangkan. Keragaman agama-agama haruslah dilihat dan difahami sebagai jalan-jalan yang ditempuh oleh umat manusia yang berbeda secara lahir, namun semuanya berujung pada muara yang sama, Tuhan-Ideal. Tuhan yang selama ini telah dikonsepsikan secara sempit oleh umat manusia beragama searah dengan tingkat dan pencapaian nalar-spiritual mereka.

Diposkan oleh aang di 07:21 0 komentar

 
 

 
 

KONVERGENSI AGAMA-AGAMA

Agama lahir dan hadir dalam sejarah manusia sebagai realitas yang tidak tunggal. Ketidaktunggalan realitas agama tidak terlepas dari medium, baik sejarah maupun kultural, di mana agama mendapatkan bentuk dan jalan pengungkapan secara evolutif dan tidak simultan. Ketidaktunggalan ini, selaras pula dengan pencapaian nalar-spiritual di samping kebutuhan historis umat manusia yang meniscayakan kehadiran peran signifikan yang dimainkan oleh agama-agama.

Penelitian Roger Schmidt seolah menegaskan kembali apa yang penulis asumsikan di atas. Schmidt melihat bahwa dalam rentang kesejarahan umat manusia yang sangat panjang, agama-agama menghadirkan diri sebagai bagian yang tak dapat terpisahkan dari kesejarahan umat manusia pada berbagai tingkat peradaban yang beragam. Mulai dari peradaban primitif, di mana agama-agama yang hadir mengambil bentuk pengungkapan yang sangat sederhana, hingga peradaban modern manusia di mana agama membahasakan diri dalam berbagai kerangka keimanan dan teologisnya yang paling rumit.

Dengan demikian, secara sosio-antropologis realitas pluralisme agama-agama merupakan realitas yang tak dapat terbantahkan keberadaannya. Realitas keragaman agama-agama yang mesti kita akui pula sebagai satu alasan yang tidak jarang justru mendorong terjadinya dehumanisasi yang sangat mengerikan. Hal ini tercipta ketika perdebatan klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim) menjadi tema besar yang senatiasa mengiringi sejarah keberagamaan manusia yang tidak tunggal.

Merupakan hal yang sangat wajar dan alamiah memang jika kemudian umat manusia beragama terlibat dalam perdebatan klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim) sebagaimana yang terangkum dalam bangunan teologis agama masing-masing. Sebab keterlibatan di dalam perdebatan mengenai dua hal itu tidak jarang merupakan ekspresi dari loyalitas mereka terhadap nilai-nilai doktrinal agama yang diikuti. Namun, menangkap keragaman agama sebagai pengalaman empirik dan faktual semata adalah tidak akan cukup memadai. Sebab jika kita, umat manusia beragama, hanya menangkap keragaman agama-agama sebagai satu hal yang bersifat empirik atau bahkan menekankan dimensi eksoterik saja, maka yang akan tercipta adalah pencapaian sikap keberagamaan yang simbolik. Keberagamaan yang tidak akan pernah mampu menyentuh ke kedalaman batin agama yang sesungguhnya menggariskan pesan universal yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia tanpa dibeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

Dalam konteks pluralisme inilah, semestinya kesan empirik tentang adanya agama-agama yang majemuk tidak berhenti dan diterima hanya sebagai fenomena faktual semata. Tetapi lebih dari itu, perlu ditekankan sebuah kesadaran bahwa ada satu realitas yang menjadi pengikat yang sama dari agama-agama tersebut, yang dalam bahasa simbolis biasa disebut sebagai "Agama itu" (The Religion). Yaitu apa yang disebut Huston Smith sebagai the common vision of the world's religion atau transcendent unity of religions (kesatuan transenden agama-agama) dalam istilah kalangan perennialis. Suatu locus di mana realitas pluralisme agama-agama beranjak pada tahap konvergensi (convergence) sebagai satu kesatuan kebenaran yang tunggal.

Dalam sebuah pengantar yang ditulis untuk buku Frithjof Schuon yang berjudul The Transcendent Unity of Religions (dalam edisi bahasa Indonesia, Mencari Titik Temu Agama-Agama), Huston Smith mengatakan bahwa setiap hal memiliki persamaan sekaligus perbedaan dengan hal-hal lainnya. Persamaan, paling tidak, dalam adanya hal-hal itu sendiri. Perbedaan, karena kalau tidak pasti tidak akan ada keragaman yang dapat diperbandingkan. Hal ini terjadi pula pada realitas agama-agama. Jika tidak ada persamaan pada agama-agama, kita tidak akan pernah menyebutnya dengan nama sama: "agama". Jika tidak ada perbedaan di antara agama, kita pun tidak akan menyebutnya dengan istilah majemuk "agama-agama".

Apa yang dikatakan Smith, seolah hendak menegaskan bahwa realitas keberagamaan yang tidak tunggal dalam berbagai bentuk dan pengungkapan selaras dengan tingkatan pencapaian nalar-spiritual kapan dan di manapun agama-agama menyapa umat manusia, ternyata memiliki kesamaan dan bermuara pada satu kebenaran tunggal. Kebenaran tunggal yang mengikut deskripsi S.H. Nasr, adalah:

"Titik temu atau kesatuan yang dibicarakan kaum tradisionalis adalah kesatuan transendental yang bersifat metafisik, dan yang melampaui setiap bentuk dan manifestasi lahiriah…kaum tradisionalis membedakan antara bentuk lahiriah dan esensi, atau bentuk dan substansi. Bentuk-bentuk lahiriah dari suatu agama dilihat sebagai suatu aksiden, yang keluar dan kembali ke substansi yang tetap independen dari semua aksidennya. Bekerjanya agama tertentu hanya pada tingkat Essensi Tertinggi, yang berada di balik ritus-ritus dan simbol-simbol dunia fisik. Jika sufi mengatakan "doktrin kesatuan adalah unik" (al-Tawhîd Wâhid), maka kesatuan transendental yang melatarbelakangi keragaman agama juga pasti unik, yaitu Yang Tunggal itu sendiri (The One Itself). Di bawah tingkat itu, setiap agama mempunyai kualitas dan karakteristik yang berbeda-beda."

 
 

Untuk melacak locus yang meniscayakan titik temu agama-agama, signifikansi perspektif filsafat Perennial tidak dapat diabaikan. Suatu tradisi filsafat yang mampu memperluas pandangan setiap individu ketika melihat realitas keragaman agama-agama yang hadir. Aldous Huxley menyebut bahwa tradisi perennial adalah: (1) Metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan Ilahi dalam segala sesuatu: kehidupan dan fikiran; (2) Suatu Psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu dalam jiwa manusia (soul) yang identik dengan kenyataan Ilahi itu; dan (3) Etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan mengenai seluruh keberadaan, baik pengetahuan yang bersifat transenden maupun imanen.

Demikian, filsafat perennial memperlihatkan keterhubungan semua eksistensi yang hadir dan mengada dalam alam semesta, dengan Realitas yang terakhir itu. Realisasi pengetahuan tersebut dalam diri manusia hanya dapat dicapai melalui apa yang disebut sebagai "intelek" dan "jalannya" pun hanya bisa ditempuh melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, simbol-simbol dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perennial ini sebagai yang bersumber dari Tuhan.

Mengapa filsafat perennial? Buddhy melihat bahwa dalam setiap tradisi keagamaan yang otentik memiliki dasar-dasar teoretis yang mendukung perspektif ini. Dalam agama Hindu terkandung konsep yang dikenal sebagai Sanathana Dharma, dalam Taoisme terdapat Tao, dalam agama Buddha termuat konsep Dharma, dalam Islam terdapat konsep al-Din, atau bahkan dalam filsafat abad pertengahan terdapat apa yang disebut sebagai Sophia Perennis.

Ada tiga pendekatan yang digunakan filsafat perennial dalam mengurai kebenaran Yang Tunggal ini: epistemologis, ontologis, dan psikologis. Dengan pendekatan epistemologis, filsafat ini membahas makna, substansi, dan sumber kebenaran agama serta bagaimana kebenaran itu berproses mengalir dari Tuhan, Yang Absolut. Dengan pendekatan ontologis, filsafat perennial menjelaskan sumber dari segala yang ada (Being Qua Being), atau bahwa setiap yang wujud sesungguhnya bersifat relatif, tak lebih sebagai jejak, kreasi ataupun cerminan dari Dia yang Esensi dan substansinya berada jauh di luar jangkauan nalar manusia. Manusia hanya sanggup menangkap bayang-bayang-Nya melalui nama dan sifat-sifat-Nya, namun tidak pernah mampu memberi batasan dan definisi yang tepat tentang-Nya. Dengan pendekatan psikologis, filsafat ini mempertahankan pandangan bahwa dalam diri setiap manusia tedapat "Atman" yang merupakan pancaran dari "Brahman", atau "potensi" Iman dan Islam yang tidak akan pernah bisa mati, meski kadangkala potensi ini terabaikan oleh adanya ketertarikan-ketertarikan nafsu duniawi yang memikat kesadaran manusia.

Dalam konteks yang paling kontemporer, perspektif filsafat Perennial ini telah dikreasikan secara sempurna oleh Frithjof Schuon –seorang genius besar dan tokoh perennialis terkemuka kontemporer-, di mana ia membilah 'agama" ke dalam dua dimensi penting: pertama, dimensi eksoterik, yang lahir, formal, empirik, dan historis: Kedua, dimensi esoterik, yang batini, substansi, meta-empirik, dan meta-historik. Setiap agama, demikian Schuon, memiliki kedua dimensi ini.

Lebih jauh Schuon menekankan bahwa garis pemisah antara agama-agama bukanlah perwujudan historisnya yang bersifat vertikal: agama Hindu dari agama Buddha, agama Kristen dari agama Islam, dan seterusnya. Sebaliknya, garis pembilahan agama-agama lebih bersifat horizontal dan hanya ditarik satu kali membelah berbagai agama yang ditemui sepanjang sejarah. Di atas garis itu terdapat dimensi esoterisme, sedangkan di bawahnya terhampar dimensi eksoterisme.

Berikut ini skema yang dibuat oleh Huston Smith untuk menggambarkan pembilahan antara realitas eksoterik dan esoterik seperti yang diajukan oleh Frithjof Schuon:

Esoterisme Eksoterisme

Islam Kristen Yahudi Hindu Buddha China

 
 

Demikianlah, Schuon melihat bahwa di tingkat bawah (eksoterik) tercipta perbedaan antara agama yang satu dengan agama yang lain, namun keragaman ini menyempit dan bertemu (convergence) di tingkat tertinggi (esoterik). Dengan tanpa mengingkari keunikan partikular masing-masing agama, Schuon berpandangan bahwa Kebenaran Mutlak (The Truth) hanyalah satu, tidak terbagi, tetapi Yang Satu ini memancar ke dalam berbagai "kebenaran" (truths). Sebagaimana matahari yang memancarkan cahaya secara niscaya, maka ketika spektrum cahayanya ditangkap oleh manusia akan hadir kesan keanekawarnaan, namun secara hakiki, sesungguhnya cahaya tersebut adalah satu yang bermuara pada yang tunggal (matahari).

Diposkan oleh aang di 07:08 0 komentar

 
 

Membangkitkan Kesadaran Spiritual - Sebuah Pengalaman Sufistik

oleh: adiguna    

Pengarang : Pir Vilayat Inayat Khan

More About : pir vilayat inayat khan kisah hidup

"Waspadalah untuk tidak membatasi dirimu hanya pada satu agama saja dan menolak semua agama lain, sebab engkau akan banyak kehilangan manfaat, bahkan pengetahuan mengenai realitas tidak akan dapat engkau raih. Jadikan dirimu penampung segala kepercayaan. Sebab Tuhan terlalu besar dan terlalu luas untuk dibatasi dengan satu agama saja" (Ibn Al'Arabi).

Sufisme adalah tenteram bersama Tuhan. Menjadi anak sang waktu. Mengalihkan cara pandang dari sudut pribadi yang sempit kedalam sudut pandang Ilahi. Ditinjau dari sisi lain, memiliki relevansi dengan masa depan yang begitu sarat dengan teknologi, masa depan adalah bukan apa yang menanti, ia adalah sesuatu yang tercipta melalui penyortiran masa lalu untuk dimasukkan kedalam masa depan. Terus berlangsung pada setiap era melalui proses yang imajinatiff, inovatif, dan dilakukan dalam kesadaran hingga membentuk apa yang dinamakan evolusi spiritual. Menggeser perspektif pikiran kerdil kedalam perspektif lain yang lebih tinggi dan luas hingga menyingkap kebermaknaan dalam konteks totalitas penciptaan yang menakjubkan. Berpikir layaknya Alam Semesta. "Berpikir seperti Tuhan Berpikir" (Newton). Menggunakan media meditasi sebagai sarana dasar perenungan, untuk mewujudkan dan menemukan dimensi kosmik dan transenden dalam memperluas dan mengubah perspektif individual dan pemahaman kepribadian tentang kehidupan, hingga mencapai suatu tahapan dimana ditemukan suatu intuisi langsung yang tidak dimediasi oleh fenomena fisikal dan menemukan kebebasan didalam batin, pikiran dan emosi.

"Ketika ketidakbenaran dalam hidup menembus hati, saat itu kebenarannya dibukakan". (Hazrat Inayat Khan).

 
 

 
 

 
 

Pasted from <file:///D:\Dokumen\DDM\Hazrat%20Inayat%20Khan%20dan%20Sufisme%20Universal.doc>

 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar